Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa itu Kudis?

Kudis adalah suatu kondisi kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau gatal pada manusia. Secara medis, kudis dikenal sebagai Sarcoptes scabies.

Apa itu Kudis?

Tungau berukuran mikroskopis ini bersembunyi di kulit manusia dan biasanya menyebabkan gatal-gatal dan ruam.

Kudis bisa berada dimana saja diseluruh bagian tubuh manusia. Baik itu di tangan, kaki, badan, selangkanan dan tempat-tempat lain.

Bagaimana seseorang bisa terkena kudis?

Sebenarnya, setiap orang berpotensi terkena scabies. Ini biasanya menjangkit lewat kontak dari orang ke orang yang menyebabkan penularan scabies.

Scabies dapat ditemukan diseluruh dunia dan biasanya memang ditularkan lewat kontak langsung dan berkepanjangan dengan seseorang yang mengalami scabies.

Kontak seksual adalah cara paling umum penularan scabies. Penularan juga dapat terjadi orang orang tua ke anak-anak, terutama dari ibu ke bayi.

Baca juga : Cara Menghindari Hoax Kesehatan Di Media Sosial

Tungau sendiri hanya bertahan hidup sekitar 48-72 jam tanpa kontak dengan manusia, sehingga memang jarang terjadi.

Namun ada kemungkinan scabies bertahan cukup lama. Scabies juga bisa menyebar ditempat tidur, pakaian yang dikenakan, handuk, furniture rumah dan lain sebagainya.

Sehingga, saat seseorang terkena scabies, maka berpotensi menjangkit kepada orang lain yang ada disekitarnya.

Berapa lama kudis bertahan?

Kudis atau tungau scabies hanya bertahan hidup sekitar 72 jam tanpa kontak dengan manusia. Dalam kondisi tertentu, scabies bisa bertahan hidup hingga dua bulan dan mungkin lebih lama.

Dalam kasus lebih dari dua bulan, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Misalnya, tempat tinggal berada dalam kondisi yang dingin dengan tingkat kelembapan tinggi.

Sekali terkena scabies, ia akan langsung masuk ke bagian kulit. Gejala ini biasanya muncul mulai dari tiga hingga enam minggu setelah infestasi.

Bisakah kudis terjangkit kudis dari hewan?

Hewan sebenarnya tidak menularkan jenis tangau tertentu yang sama sehingga menyebabkan scabies pada manusia.

Jadi secara tidak langsung, tidak mungkin untuk terjangkit scabies dari hewan terutama hewan peliharaan seperti anjing atau kucing.

Biasanya, jenis scabies yang menyerang hewan peliharaan juga disebut dengan mange. Dalam beberapa kasus, scabies hewan dapat menyerang manusia dan menyebabkan gatal disekitar tubuh yang terjangkit dan membuat kulit berwarna kemerah-merahan.

Baca juga : Koma: Pengertian, Kasus, Diagnosis dan Prognosis

Namun scabies tersebut tidak dapat bertahan hidup atau bereproduksi pada kulit manusia dan akan hilang dengan sendirinya.

Seseorang yang terkena scabies tidak perlu dirawat. Namun, untuk kasus pada hewan, ada baiknya dilakukan perawatan.

Sebab, anjing atau kucing yang terkena kudis berpotensi menghilangkan bulu-bulu dan membuat kulit hewan tersebut bersisik dan gatal.

Tanda dan gejala

Scabies biasanya membuat kulit terlihat seperti ada benjolan merah kecil dan lepuh. Gejala utama kudis biasanya gatal [yang cenderung lebih intens dimalam hari] dan gejala lain seperti ruam yang terlihat macam jerawat.

Ruam kudis dapat muncul dibagian tubuh manapun, namun biasanya tempat yang paling sering terkena scabies adalah di tangan, siku, ketika, kulit diantara jari tangan dan kaki dan disekitar kuku.

Untuk anak-anak atau bayi, beberapa tempat yang paling sering terkena scabies adalah di kepala, wajah, leher, telapak tangan.

Dalam beberapa kasus, dimana penderita kudis memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, ruam scabies bisa terlihat berkerak.

Penampilan Kudis

Kulit yang terkan scabies akan terlihat seperti goresan papula asli. Scabies terlihat seperti titik gelap pada kulit yang terkontaminasi.

Kudis juga terlihat seperti benjolan kecil macam jerawat yang terdapat di kulit. Benjolan ini makin lama makin keras.

Terkadang, scabies disertai dengan lubang atau garis-garis tipis berwarna abu-abu, coklat atau merah yang terlihat dari benjolan tersebut.

Dalam beberapa kasus, scabies mungkin susah dilihat dengan mata telanjang karena hanya terlihat seperti goresan biasa.

Ciri-ciri infeksi Kudis

Ciri paling umum dari infeksi kudis adalah kulit akan terasa gatal, dan makin intens terjadi saat dimalam hari atau menjelang tidur.

Gatal ini merupakan gangguan ringan dan berlanjut ke titik dimana seseorang yang terinfeksi dengan scabies akan susah tidur.

Cara mendiagnosa

Kudis biasanya didiagnoasa berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik lesi [benjolan]. Tes lain yang mungkin dilakukan adalah:

  • Mengikis kulit untuk mengindetifikasi telur tungau [kudis]
  • Dermoscopy diamana digunakan alat dermoscope gengam yang memungkinkan dilakukannya pemeriksaan visual pada kulit secara lebih detail
  • Uji pita perekat dimana seorang dokter menggunakan pita perekat yang kuat dan ditempatkan pada lesi kulit lalu ditarik untuk kemudian dilihat menggunakan mikroskop

Cara mengobati kudis

Sebenarnya, tidak ada cara pengobatan yang benar-benar mujarab atau membuat orang tidak akan terkena kudis. Namun biasanya, untuk mencegah pemaparan, akan dilakukan beberapa metode pengobatan, antara lain :

a. Menggunakan krim Topical

seperti penggunaan krim topical seperti Permethrin [Elimite], yang dioleskan langsung ke kulit, dari leher ke telapak kaki.

Krim tersebut harus terus digunakan dan dibiarkan sekalipun saat tidur. Lalu dibilas setelah 8-12 jam.

Baca juga : Kenali Kombinasi Obat yang Membahayakan

Perawatan scabies topical lainnya termasuk krim atau lotion crotamiton [crotan dan erurax], lindane [biasanya tidak digunakan sebagai pengobatan pertama karena risiko kejang], salep belerang dan benzyl benzoate [tidak tersedia di beberapa negara].

b. obat oral

Dalam beberapa kasus, untuk mengobati scabies, orang-orang mengkonsumsi obat seperti ivermectin oral. Penggunan obat ini terutama dalam kasus dimana scabies menutupi sebagian besar tubuh.

Obat oral ini sering digunakan di Panti Jompo dimana ada kemungkinan besar kudis akan menjangkit orang-orang.

Penggunaan obat oral macam ini direkomendasikan dosis sebesar 200mcg/kg sebagai dosis tunggal dan terus digunakan selama dua minggu.

Keuntungan dari penggunaan ivermection oral adalah penggunaannya yang mudah dan tidak menyebabkan masalah kulit lain.

Namun, ivermectin bisa menyebabkan efek samping bagi orang-orang tertentu sehingga tidak selalu menjadi pilihan pengobatan pertama.

c. Antihistamin

Pil antihistamin bisa membantu seseorang meringankan gatal akibat kudis. Bagi anda yang terkena scabies, anda dapat menghilangkan sensasi gatal dengan mengkonsumsi antihistamin yang dijual bebas seperti diphenhydramine [Benadry].

Cara agar tidak terjangkit kudis

Ada beberapa cara untuk menghindari diri anda, anak atau orang lain untuk tidak terjangkit kudis, antara lain:

a. Selalu mencuci seprei secara berkala

Tungau scabies memang tidak bertahan lebih dari 72 jam tanpa kontak dengan manusia. Untuk menghindari terkena kudis, ada baiknya anda rajin mencuci seprei.

Saat mencuci upayakan untuk merendamnya dalam air panas. Anda juga bisa membiarkannya, asalkan tidak melakukan kontak dengan barang-barang yang anda anggap terinfeksi kudis selama 72 jam.

b. Hindari pemakaian baju, handuk dan kaus kaki dengan orang lain

Cara ini cukup efektif untuk menghindari scabies menjangkit. Terkadang, seseorang menggunakan baju, handuk atau kaus kaki dengan orang lain.

Hal ini tidak saja membuat anda berpotensi terkena kudis, namun juga penyakit-penyakit kulit lain seperti panu.

c. Hindari kontak dengan hewan yang terindikasi mengalami kudis

Jika ada hewan peliharaan anda yang terindikasi terkena scabies ada baiknya anda hindari kontak langsung dengan hewan tersebut.

Meskipun potensi menjangkit scabies dari hewan ke manusia kecil, tapi ada kemungkinan anda juga akan terkena kudis.

d. Potong kuku dengan rajin

Kuku biasanya menjadi sarang bagi kudis untuk tinggal dan berkembang biak. Oleh karena itu, ada baiknya anda rajin memotong kuku secara berkala.

Scabies seringkali menyerupai kondisi kulit lainnya. Dalam kasus tertentu, kudis mungkin terlihat seperti jerawat atau gigitan nyamuk.

Terkadang juga terlihat seperti eksim atau tinea [kurap]. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui apakah itu kudis atau bukan.

Kudis dapat menyebar dan bertahan lama di fasilitas perawatan jangka panjang seperti di panti jompo. Scabies juga dapat mengan mudah menyebar pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti dalam kasus orang-orang yang terkena HIV/AIDS dan kanker.

Mengenal Kudis Norwegia

Scabies Norwegia biasanya menyerang kepada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

“Kudis Norwegia” adalah nama lain dari scabies berkrusta, yang cenderung menyerang kepada pasien dengan sistem kekebalan tubuh terganggu karena kondisi tertentu seperti HIV/AIDS dan kanker.

Orang tua dan juga pasien dengan keadaan medis tertentu seperti Sindrom Down juga rentan terkena kudis Norwegia.

Baca juga : Pengertian Hati, Letak dan Fungsinya

Seseorang yang terkena scabies berkrusta ini sangat menular. Selain itu, biasanya pasien yang terkena dengan scabies ini terkena disebagian besar area tubuh.

Selain itu, lesi ini akan memicu bau yang tidak sedap. Kuku akan terlihat lebih tebal dan berubah warna namun biasanya pasien tidak mengalami gejala gatal seperti scabies biasa.

Posting Komentar untuk "Apa itu Kudis?"